MAKRIFAT “BAABULLAH”


Oleh: Fahrul Abd Muid
Penulis adalah Dosen & Sekretaris ICMI Ternate-Maluku Utara

Jika dzukira (disebutkan) namanya “Baabullah” maka yang terlintas dalam pikiran kita pasti tertuju kepada Sultan Ternate yang ke-7 dan yang Agung itu, beliau seorang laki-laki syuja’ (pemberani), quwwah (perkasa), pendekar dan paling bersahaja.

Sultan “Baabullah” lahir di Ternate 10 Februari 1528 dan beliau wafat pada, 25 Mei 1583 pada usianya yang ke- 55 tahun, al-marhum (yang disayangi) “Baabullah” berkuasa menggantikan ayahnya Sultan Khairun (pemimpin yang membawa kebaikan) yang meninggal akibat dibunuh oleh orang Portugis yang pura-pura bertamu di kediamannya.

“Baabullah” yang memerintah tahun 1570-1583 memiliki prestasi yang luar biasa karena keberhasilannya mengusir bangsa penjajah yang bernama Portugis di Jaziratul Muluk. Maka masa Sultan “Baabullah” disebut sebagai masa yang “Spektakuler” dalam Tarikh al-Sulthaniyyah (sejarah Kesultanan) Ternate. Sebab, “Baabullah” merupakan pemimpin yang berhasil menaklukkan bangsa asing yakni Portugis dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kekejaman bangsa Portugis begitu yu’dzi al-qalbi (melukai hati) Sultan Baabullah dan rakyat Ternate, menguasai bangsa penjajah hanya membutuhkan waktu lima tahun “Baabullah” dan pasukannya berhasil mengepung benteng Portugis di Ternate. Ketika itu, pasukan Portugis semakin dha’if (lemah) dan tidak berdaya karena kesaktiannya telah dicabut oleh Sultan Baabullah. Karena sudah berhasil dikepung, orang-orang Portugis tidak bisa khuruj (keluar) kandangnya yang berakibat pada kekurangan obat-obatan, kehabisan logistik atau makanan yang mengancam nyawanya hingga membuat mereka akhirnya terpaksa menyerah atau tunduk di bawah kekuasaan sultan “Baabullah”.

Di sisi yang lain “Baabullah” memiliki kecerdasan dalam hal menyusun strategi perang untuk mengalahkan bangsa penjajah Portugis wa akhwaatuha (dan saudara-saudaranya) yang hobinya hanya menjajah/menyiksa dan merampas kekayaan negeri Jaziratul Muluk.

Tepatnya, pada 28 Desember 1575, Portugis pun menyerah bilaa syarthin (tanpa syarat). Tiga hari kemudian pada 31 Desember 1575 Portugis diizinkan oleh Sultan Baabullah meninggalkan Pulau Ternate bisyarthin (dengan syarat) agar alat perang atau senjata yang mereka miliki harus ditinggalkan, jika mereka tidak mau menuruti amar (titah) Sultan Baabullah maka orang-orang Portugis tidak akan diberikan izin untuk bebas pergi meninggalkan Pulau Ternate dan pastinya mereka akan diberikan sanksi yang sangat adil oleh sang Sultan Baabullah.

Akibat kehebatannya, Sultan Baabullah, Francois Valentyn menyebutnya sang “Baabullah” sebagai si penguasa 72 (tujuh puluh dua) pulau. Di era itu, Ternate telah mencapai qimatu al-majdi (puncak kejayaan) dan menjadi al-sulthaan al-akbar (kerajaan yang besar). Sultan Baabullah telah berhasil menanamkan rasa watsiqun min nafsihi (percaya diri) kepada rakyatnya, agar dapat al-nahdhiyyah (bangkit) melawan kekuasaan asing yang ingin menguasai hidup mereka. Namanya kemudian di bumikan hari ini oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perhubungan untuk mengabadikan nama al-marhum al-sulthan al-akbar (sultan yang agung) yakni dengan nama mathaar al-sulthan Baab Allah “Bandara Sultan Baabullah Ternate”.

Sejak menjadi sang Khalifah (pemimpin/kepala) as-sulthaniyyah dalam pemerintahan, “Baabullah” memperoleh keberhasilan yang gemilang dengan membawa Kesultanan Ternate kepada puncak kejayaannya di akhir abad ke-16. Di bawah kekuasaannya pula Maluku dan sekitarnya berperan dalam jaringan rempah Asia dan perdagangan rempah juga meningkat signifikan untuk kemajuan perekonomian yang kemudian menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Wilayah kekuasaan Sultan Baabullah di Indonesia timur mencakup sebagian besar Kepulauan Maluku, Sangihe dan sebagian dari Sulawesi.

 Sehingga pengaruh Ternate pada masa kepemimpinannya bahkan mampu menjangkau Solor (Lamaholot), Bima (Sumbawa bagian timur), Mindanao, dan wilayah papua termasuk Raja Ampat . Maka Sultan Baabullah yang dengan pengaruhnya menjadi seorang Sultan yang ‘adil kemudian dijuluki sebagai sang penguasa 72 (tujuh puluh dua) negeri yang semuanya memiliki Raja yang tunduk kepadanya hingga menjadikan Kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur dan dunia.

Jaziratul Muluk menjadi daya tarik tersendiri bagaikan sebuah magnet untuk menarik dan menyedot perhatian para saudagar asing atau bangsa penjajah untuk datang ke negeri ini dengan satu tujuan membeli hasil-hasil bumi yaitu buah pala dan cengkeh yang memiliki khasiat yang luar biasa untuk kehidupan manusia, dan kemudian mereka beranggapan bahwa buah pala dan cengkeh adalah buah-buah yang jatuh dari jannah (surga).

Sultan Baabullah banyak memberikan konstribusi pikiran, jiwa dan tenaganya serta memiliki sikap yang istiqamah (komitmen/konsisten) perjuangan yang tinggi dan “Baabullah” telah berhasil mengusir kesewenang-wenangan bangsa Portugis di Ternate tanpa banyak menumpahkan darah kemanusiaan, maka atas prestasi yang gemilang itu yang kemudian tertulis dengan habrun dhahabi (tinta emas) dalam sejarah kesultanan Ternate, yang pada akhirnya bangsa Indonesia memberikan Gelar al-bathal al-wathaniy (Pahlawan Nasional) secara resmi kepada Sultan Baabullah sebagai tokoh utama yang sangat membanggakan bagi seluruh masyarakat Provinsi Maluku Utara hari ini, setelah sebelumnya Sultan Nuku juga telah diberikan Gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Maka, ruh al-jihadi (spirit perjuangan) yang pernah dilakukan oleh “Baabullah” dalam menumpas, menaklukkan dan mengusir bangsa penjajah Potugis wa akhwaatuha di negeri ini menjadi napak tilas bagi generasi muda sesudahnya. Kita harus melanjutkan spirit perjuangan “Baabullah” untuk al-insaniyyah (memanusiakan manusia) tanpa harus bermusuhan atau mencipatakan konflik antar sesama anak negeri ini karena ingin memperjuangkan kepentingan siyasah (politik) dan rebutan proyek saja.

Kita dilarang membuka “Aib” antara sesama orang Islam atau antara kita sebagai anak negeri ini, jangan kemudian terlintas dalam hati dan pikiran kita bahwa jika ada yang berkompetisi untuk urusan kekuasaan dan bukan berasal dari suku yang sama maka dia harus dihadang atau dihalangi dengan berbagai macam cara dalam pertarungan kekuasaan itu, tetapi justru yang harus kita jaga adalah ukhuwwah al-insaniyyah (persaudaraan se-kemanusiaan) sesama anak negeri ini menjadi lebih utama dari segalanya.

Politik qabilah (politik suku-suku) jangan dikedepankan untuk dijadikan alat politik kekuasaan yang akan berdampak atas retaknya rasa persaudaraan kita sebagai sesama anak negeri di Jaziratul Muluk. Menciptakan keseragaman atau hanya satu warna suku saja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu dalam mengelola pemerintahan daerah ini tidak boleh dinomor-satukan, akan tetapi justru yang dinomor-satukan adalah terhadap anak negeri ini yang memiliki knowledge (kemampuan ilmu pengetahuan) dibidangnya.

Jika yang menjadi Kepala Daerah Gubernur, Bupati dan Walikota yang berasal dari suku tertentu, maka semua yang menjadi bawahanya atau yang menajdi Kepala Dinas atau apapun jabatannya harus berasal dari suku yang sama atau paling tidak masih ada hubungan kekeluargaan.

Model perilaku (sifat dan karakter) kepemimpinan yang dimiliki oleh Kepala Daerah kita dalam mengelola urusan negara atau urusan pemerintahan yang seperti ini, demi Allah, hal ini tidak pernah diajarkan atau dipraktekkan oleh Sultan Baabullah ketika memimpin negeri ini. Sungguh “Baabullah” mengajarkan saya, anda dan kita semua tentang pentingnya atta’awun (berkolaborasi) bersama untuk kemajuan negeri ini disegala bidang tanpa melihat dari suku mana dia berasal. Jika sekiranya muncul perilaku pemimpin di negeri ini yang sangat tidak terpuji atau sangat buruk yang kemudian berimplikasi terhadap rusaknya hubungan kemanusiaan dan persaudaraan antara sesama anak negeri, maka model kepemimpinan yang seperti itu adalah cerminan dari perilaku bangsa penjajah/kolonial di masa lampau yang bernama bangsa Portugis wa akhwaatuha (dan saudara-saudaranya) bergaya modern.
Dengan demikian, arti nama “Baabullah” yang secara semantik memiliki arti yakni “Pintu Allah” yang jika di ma’rifatkan maknanya dalam perspektif Islam bahwa, yang dimaksud dengan “Baabullah” secara etimologi yaitu “memasuki pintu Allah” dan secara terminologi “Baabullah” adalah pintu-pintu surga yang disiapkan Allah Swt untuk dimasuki oleh orang-orang mukmin yang semasa hidupnya yang rajin shalat, rajin berjihad, rajin bersedekah, dan rajin berpuasa. Sultan Baabullah semasa hidupnya sangat berjasa atas perkembangan Dakwah Islamiyyah di negeri ini, “Baabullah” adalah seorang sultan yang ahli ibadah (shalat), sang Mujahid fii Sabillah, mengamalkan ibadah sedekah dan ahli berpuasa. Dalam diri “Baabullah” bertajalli (manivestasi) sifat-sifat Allah yang terpantul dalam kemuliaan Akhlaknya dalam memimpin rakyatnya. Maka pada hakikatnya al-ruuh “Baabullah” bilaa mautin (tidak pernah mati atau wafat). Oleh karena itu, terlalu kuat Ruhnya “Baabullah” yang kita rasakan hari ini untuk menjaga keselamatan negeri Jaziratul Muluk ini. Jika kemudian muncul seorang pemimpin hari ini yang memiliki watak, sifat dan karakter seperti yang terdapat dalam dirinya Sultan Baabullah, maka itulah Inkarnasi dari sosok sang “Baabullah” untuk menjadi pemimpin negeri yang saya, anda dan kita semua mahabbah (cintai) ini. Semoga Bermanfaat Tulisan ini. Wallahu ‘alam Bishshwab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *