Lagi !!! Gubernur AGK Didemo Massa HMI Cabang Ternate, Buntut Masalah Pencemaran Sungai Sagea

TERNATE, MALUTTODAY.com – Puluhan massa pendemo dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate kembali lakukan aksi unjuk rasa di depan Kediaman Gubernur Maluku Utara (Malut) KH. Abdul Gani Kasuba (AGK) di Ternate. Senin (11/9/2023).

Aksi demo kedua kalinya yang dilakoni HMI Cabang Ternate ini buntut dari permasalahan Air keruh Sungai Sagea yang dinilai tak kunjung diseriusi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Malut dibawah urusan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Malut.

Puluhan pendemo menggunakan perlengkapan sound sistem dan umbul-umbul berorasi tepat dipintu gerbang masuk kediaman, tampak pula masa membakar ban bekas dengan sorak-sorai sejumlah tuntutan yang salah satunya mendesak Gubernur AGK untuk mencopot Kepala Dinas DLH Malut Fachrudin Tukuboya.

Dalam kesempatan itu Hendra Nawawi selaku Koordinator Aksi, dalam isi propaganda menjelaskan, bahwa Sagea merupakan salah satu Desa di Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah, dengan penduduk berjumlah kurang lebih 1.300 jiwa.

“Desa ini berada dekat dengan Sungai Sagea, yang panjangnya sekitar 7000 kilometer. Disamping menjadi jalur masuk menuju Objek Wisata Goa Bokimaruru,” kata Hendra dalam rilis propaganda.

Menurut Wasek PTKP HMI Cabang Ternate ini, Goa Bokimaruru juga bagian dari simbol budaya, sebab masyarakat setempat memandang sungai ini mengandung nilai kebudayaan yang telah lama disakralkan sebagai peninggalan leluhur.

“Bahkan air sungai ini dipakai warga sebagai sumber air minum, dan sudah tentu pula digunakan warga mengais mata pencaharian,” ungkap Mantan Wasek PTKP HMI Komisariat Ushuluddin IAIN Ternate ini.

Lanjut Hendra, akan tetapi sejak tanggal 14 Agustus 2023 kemarin kondisi air Sungai Sagea sangatlah memprihatinkan karena berubah warna menjadi kuning kecoklatan akibat dari pencemaran sedimentasi yang diduga kuat ulah dari aktivitas perusahaan tambang.

Dia menyebutkan, dari sekian perusahaan tambang terdapat 5 perusahaan yang beroperasi tepat di dibelakang Desa Sagea, yakni PT. Weda Bay Nikel (WBN), PT. Tekindo, PT. Pasifing Maining, PT. Halmahera Sukses Mineral dan PT. HMS.

“5 perusahaan ini telah terintegrasi langsung dengan PT. Indonesia Weda Industrial Park, dugaan kuat pencemaran ini tentunya sangat merugikan warga,” tandasnya.

Hendra juga menambahkan, pencemaran Sungai Sagea selain merugikan warga karena sumber air minum terkotori, juga masalah ini erat kaitannya dengan adanya problem penyusunan dokumen Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) terhadap perusahaan tambang tersebut.

“Oleh karena itu, dengan tercemarnya Sungai Sagea ini seyogyanya dijadikan catatan penting sekaligus tamparan keras bagi Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian KLHK dan Kementerian ESDM untuk tidak lagi mengobral Izin Usaha Pertambangan atau Izin Industri Ekstraktif berbasis lahan skala luas,” pintanya menutup.

Adapun tuntutan pendemo dari HMI Cabang Ternate, sebagai berikut ;

Mendesak Pemprov dalam hal ini Gubernur Malut Untuk Membentuk Tim Terpadu Investigasi

Mendesak Polda Malut Segera Ungkap Pelaku Pembunuhan di Halteng dan Haltim

Cabut Izin Usaha 5 PT. Yang beroperasi di Hutan Sagea, yakni PT. Weda Bay Nikel (WBN), PT. Tekindo, PT. Pasifing Maining, PT. Halmahera Sukses Mineral dan PT. HMS.

Cabut IUP PT. Priving bertempat di Gunung Wato-Wato Haltim.

Copot Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Malut.

Menuntut dilakukan penyelidikan dan penegakan Hukum Lingkungan oleh Instansi Berwenang.

Hentikan aktivitas Perusahaan Tambang di belakang Kampung Sagea sebelum Air Sungai kembali semula.

Selamat Kampung dan Sungai Bokimaruru.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *