Komisi III DPRD Malut Wanti-Wanti Sejumlah Paket MY Tak Tuntas Akhir Tahun 2023

SOFIFI, MALUTTODAY.com – Terdapat beberapa proyek dari 21 paket kegiatan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan dengan anggaran Multiyears (My) milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Maluku Utara (Malut) diwanti-wanti tak akan selesai pada akhir Tahun 2023.

Pasalnya, Komisi III (Tiga) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Malut menemukan laporan capaian presentase beberapa pekerjaan dari 21 Paket yang tersebar di 9 (sembilan) Kabupaten/Kota Provinsi Malut ada yang masih dibawah 50 persen dengan sisa waktu pekerjaan hanya 4 (empat) bulan ini.

Hal tersebut diungkapkan Diane Sumendap, selaku anggota Komisi III DPRD Malut saat diwawancarai wartawan usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas PUPR Malut dan Konsultan Pengawas. Bertempat di Hotel Gaiya Ternate pada Jumat (18/8/2023) malam kemarin.

Politikus Partai PDI-Perjuangan ini menuturkan, untuk paket pekerjaan jalan dan jembatan ruas Kawalo-Waikoka ketika dievaluasi progresnya di lapangan, pihak konsultan pengawasan proyek pembangunan tak paham persoalan yang terjadi pada item-item pekerjaan ruas jalan tersebut.

“Karena Kawalo-Waikoka ini yang datang dalam RDP adalah staf teknik, tapi ternyata Ia tidak memahami persoalan dan tidak paham tentang pengawasan. Dia (Staf teknik) menjelaskan rancu atau keliru tentang progres dan item-item pekerjaan di lapangan,” ungkap Diane.

Senator asal Dapil Halmahera Utara dan Pulau Morotai ini mengatakan, sementara untuk pekerjaan Galela-Kedi yang dilaporkan sudah ada diangka 37 (Tiga puluh tujuh) persen. Namun menurutnya angka itu hanya laporan, dimana pihaknya belum turun melakukan verifikasi aktual lapangan secara langsung.

“Capaian 37 persen pekerjaan di Galela-Kedi ini kita hanya menerima laporan progres dari mereka,” ujarnya.

Lanjut legislator perempuan ini menyebutkan, jika pembangunan jalan dan jembatan ruas Ngidiho-Lapi per hari ini sudah ada di posisi 59 persen. Dimana, kata Diane progres pembangunannya lumayan baik, mengingat juga karena progres keuangan pembangunan juga masih dikisaran 15 persen.

Menurut Diane, memang ada beberapa proyek yang masuk kategori kontak kritis, dan hal tersebut akan pihaknya lanjut dengan pertemuan secara khusus bagaimana agar dapat diseriusi, dan pihaknya terus mensuport pemegang tender agar benar-benar mereka bisa capai target.

Meski begitu, Diane menegaskan optimis atau tidaknya pekerjaan proyek dapat tuntas akhir Tahun 2023 tergantung pada progres pembangunan di lapangan, jika saat ini masih dibawah 50 persen dengan sisa waktu pekerjaan cuma empat bulan lamanya maka tak bisa selesai

“Jadi begini saya melihat untuk progres yang diatas 50 persen optimis bisa. Memang ada beberapa juga yang progresnya dibawa 50 persen karena seperti ada yang pekerjaannya mengandung jembatan belly. Ada beberapa yang belly sudah di pesan atau bahkan sudah sampai, itu yang belum kita masukkan. Begitu masuk dipastikan progresnya naik,” ujar Diane.

Diane menegaskan lagi, kalau yang progresnya sudah 50 persen dan mendekati 50 persen maka pihaknya optimis pekerjaannya bisa tuntas. Akan tetapi kalau per hari ini ada yang masih 10 persen itu memang pihaknya berkeyakinan bahwa mereka tidak akan sanggup kerja capai 100 persen dan tuntas di akhir tahun

“Mungkin ada sekitar 5 perusahaan pemegang proyek yang masih dibawah, yaitu pekerjaan di Pulau Obi, ruas Laiwui-Jikotamo-Anggai, kemudian ruas Payahe-Dohepodo, dan khusus untuk jalan dan jembatan ruas Wayatim-Wayaua masih 15 persen,” ungkapnya.

Diane juga mengaku, kalau pengerjaan paket
yang lain memang presentasenya ada dibawah, akan tetapi karena jenis pekerjaannya itu mudah seperti pembukaan badan jalan kemudian timbunan pilihan itu boleh selesai yang penting mereka serius untuk diselesaikan.

“Contohnya di ruas jalan Maba-Sagea itu terhalang karena amdal (Analisis dampak lingkungan), tapi dengan tersedianya alat-alat di lokasi saya optimis boleh yang penting amdalnya selesai dalam bulan ini, sehingga mungkin mereka harus percepat pemesanan belly begitu mungkin,” jelas Diane.

“Karena itu saja yang agak riskan karena kalau cuma timbunan pilihan saya pikir mereka bisa capai target,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *