Sepasang “Ratu Adil” : Dari Kisah Menuju Girah

Oleh : Muh. Rifdi Umasangadji

Kata ratu amat lekat dengan perempuan didalam kepemimpinan pada sebuah negara berbasis monarki, dalam spektrum waktu dapat dikenal Ratu Elisabeth, bahkan jauh sebelum itu Ratu Balqis dalam kisah yang dikisahkan Kitabullah.

Menandai awal kepemimpinan perempuan, menyongsong praktik kepemimpinan yang cukup berlangsung lama, hingga masuk pada abad-abad gelap melilit perempuan, kemudian bangkit, seperti kata-kata R.A Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang,”.

Muncul berbagai gugatan, desakan deras lewat gerakan kesetaraan gender. Di Indonesia sendiri pada 1908 perintis kalimat menggugah diatas dapat dibilang pelopor gerakan kesetaraan gender, baik di dunia pendidikan maupun sosial lainnya.

Namun soal kepemimpan bukan menjadi pokok sungguhan, hanya meminjam kata ratu saja dengan labelan berikutnya adil. Ratu adil cukup pasti memenuhi pikiran orang Indonesia sebagai raja penyelemat, yang dapat membawa keberuntungan.

Ratu adil ini seperti kesohor, kadang disamakan dengan Satria Piningit adalah mitologi Jawa yang dalam serat-serat kunonya menyatakan bahwa bakal datang pemimpin Nusantara yang akan menjadi penyelamat, keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Kendati begitu, ratu adil dalam bahasan ini tidak sebagaimana makna tersebut. Lebih lanjut disoroti pada kebijaksanaan per-empu-an didalam mengepakkan sayap keutamaan bersifat maupun bertindak, yang patut diteladani oleh anak manusia.

Tidak sesempurna grand kisah dan sarat makna dari Alquran, sepasang “ratu adil” yang nanti menjadi topik ini terambil dari karya Habiburrahman El Shirazy kemudian Helmy Yahya dkk.

Pada kedua buku yang diarsiteki mereka. Pertama El Shirazy, di atas sajadah cinta menuangkan kisah dibawah langit Kota Kuffah, terlukis manja dibibir tanah seorang gadis kesayangan sang ayah bernama Afirah.

Afirah penakluk dua lelaki, yang jatuh hati kepada sang abdi Tuhan, hingga merengkuh rindu dengan mata berkaca.

Sementara Helmy Yahya, ketika berkeras tahu akan Enrique mengungkap sepupu lelaki yang akrab dipanggil Boy oleh Datuk Harun. Sepupunya itu adalah ratu kecil bernama Amira dari Maluku, yang membuat Boy cemberut nan bernanar, isakan mengeringi sekoci melepas tepi pantai.

El Shirazy menuturkan, jika Afirah merupakan anak saudagar kaya pemilik kebun kurma terluas di Kufah. Sebagai gadis berparas cantik, ayu rupawan dan shalihah itu, amat diminati banyak pemuda Kuffah bahkan ingin memperistrinya.

Menempati posisi diincar banyak lelaki, tak gampang meluluhkan hati dan tak serta merta disahut Afirah. Rupanya dia cermat memilah rasa, bahkan Abu Afirah selaku ayahnya sekalipun tak menjadi alasan baginya untuk percaya dan mau mengikuti lamaran dari Yasir yang juga anak saudagar.

Tak berlangsung lama, nampaknya Tuhan pun turut campur tangan mempertemukam dua insan yang lama saling mendoakan. Akhirnya tiba, Zahid pemuda tampan nan shalih yang hidupnya banyak dihabiskan di dalam masjid bertemu Afirah, sontak Afirah dan Zahid saling nyaman.

Kenyamanan bertolak belakang dengan kenyataan, betapa tidak, Abu Afirah sudah menerima lamaran Yasir, mau maupun tidak anaknya harus membangun rumah tangga dengan Yasir. Blak-blakan ditolak mentah ajakan ayah, Afirah lebih menaruh rasa kedalam hati Zahid.

Karena keterpanggilan rasa yang senada, Zahid tak menunggu lama, Ia membunuh ketakutan pergi bertandang ke rumah Afirah bermaksud melamar. Ironis melanda Zahid, dahi berkerut dalam jantung bernada keras. Lamaran Zahid ditolak Abu Afirah.

Sungguh malang nasib keduanya, dari tirai pintu kamar yang mungil tersingkap gelombang air mata jatuh perlahan. Afirah merontak dalam diam tak sepakat dengan keputusan Ayahnya, lantas hari-hari mereka saling membayang dan rindu yang mendekam.

Karena cinta yang membludak Afirah menulis surat, didalamnya beraroma tak sedap menurut Zahid, sebab Afirah terkesan memaksa untuk melakukan cara-cara diluar syariat. Zahid membalas surat itu dengan kalimat “Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik pula. Sedangkan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, laki-laki yang baik adalah buat wanita-wanita yang baik pula.

Olehnya lagi, Tuhan berpihak dalam urusan dua insan, ternyata waktu berputar menyisakan perhatian mendalam dari Ayah Afirah. Menyaksikan gelagat Yasir sebagai pemuda kaya raya namun sombong, mengorek hati terdalam Ayah Afirah sehingga membatalkan pertunangan anaknya dengan Yasir.

Kabar baik ini disambut Afirah, dengan sontak memberitahu Zahid jika pertunangan Yasir dengan dirinya telah dibatalkan sang Ayah. Hemat cerita Zahid langsung datang untuk kali kedua di rumah Afirah demi melamar, dan Ayah Afirah menerima, sampailah kedua insan yang lama saling cinta dan terpenjara rindu itu bersatu untuk selamanya.

Terpisah, dituturkan Helmy Yahya selaku periset dan penulis buku “Clavis Mundi: Legenda Enrique Maluku Pengeliling Dunia Pertama, mengkisahkan ratu kecil namanya Amira, bernada novel Helmi hanyutkan pembaca masuk ke dalam isi cerita.

Mengesankan bukan, Amira merupakan sepupu Boy nama akrab dari Patsaranga yang diberikan Datuk Harun Abbas selaku gurunya. Lelaki berkulit cokelat, berambut keriting sehelai yang sesekali rambutnya dibelai angin pantai itu hidup dengan Bapak dan Ama (Ibu) Amira di pesisir pantai penyu.

Di satu kesempatan, Boy yang tak lagi punya siapa-siapa kecuali datuk yang takzim dan hidup beralaskan kasih-sayang Bapak dan Ama Amira menemui nasib buruknya, lantaran mengambil sukun yang baru saja dimasak Ama, disambut lirih Ama dengan kata “anak yang tak beruntung”.

Sudah begitu, ketika Boy berlari keluar dari pondok tepat diambang pintu, karena lari dan menengok ke dapur tentu berbahaya.

Tak pelak lagi Ia menabrak adik sepupunya Amira. Amira dan sukun yang diambil dari dapur jatuh mengiringi tangisan Amira yang ditabrak dan tertindih. Kemudian Isak yang terengah-engah Amira sampai ke telinga Ama, gadis kecil berusia enam tahun itu dibujuk namun tak mempan.

Rupanya Ama mendahului tahu anaknya alami peristiwa tersebut. Dengan demikian Boy dan Amira disambangi Ama, Ama geram pada Boy karena menabrak Amira.

Kemarahan dilampiaskan dengan jeweran, lelaki berkulit cokelat yang girang akan biru turkois itu menjerit lantaran kesakitan. Amira lalu mengehentikan aksi Amanya itu dengan kata, “Sudah abangnya sakit!”. Suara kecil berhalilintar dapat mengusik. Boy menjauhi rumah.

Di tengah kesedihan dalam diam dan lamunan di bibir desa, seorang diri menatap ujung horizon yang satu saat Ia akan ke sana. Namun karena kasih sayang Amira selalu tercurah pada kaka sepupunya, tatapan meneduh berganti binar, panggilan Amira dengan kata Abang disahut Boy.

Kemudian sukun diberikan, tampak Amira betul-betul menyayangi Boy meski Amanya keras dan setengah hati mengurus Boy sejak Ibu dan Bapak Boy pergi tinggalkan dunia. Lanjut kisah Amira dan Boy jatuh lagi dalam musibah, di mana usai mencari kerang seharian Amira nyaris hilang.

Ketika itu Datuk Harun menghampiri Boy, alam bawah sadar Boy karena galeman dan tarian dikagetkan dengan pertanyaan kau kemari dengan siapa, tanya Datuk kepadanya, “Tadi….Beta dengan Amira, namun ketika singgah menonton Cakalele Amira minta pulang,” jawab Boy.

Hemat cerita rupanya Amira telah tersesat di rimbunan hutan, sementara gemetar takut jantung Boy berdebar kencang nyaris mengikuti tabuhan gendang Cakalele. Boy dan Datuk bergegas mencari Amira.

Menyusul Ama dan Bapak Amira turut serta menjejali kelamnya hutan dan akhirnya Amira di temukan di bawah pohon yang bersembunyi dibalik ketakutan. Disini Ama kian naik pitam gegara kali kedua Boy membuat masalah.

Meski begitu kasih sayang Amira kepada Boy selaku Kaka sepupunya tak pernah surut, sikap ramah melawan marah Ama benar ditunjukkan Amira yang tulus mengasihi Boy. Sampailah pada satu ketika, saat lelaki berkulit cokelat tersebut yang lama sudah terjatuh dalam kecintaan kepada samudera biru turkois diajak pergi ke Malaka menggunakan kapal milik pedagang Demak oleh Datuk Harun Abbas.

Disini dilema melanda, Boy yang ingin menjaga Amira atau memilih belajar banyak tentang semesta seperti kata-kata gurunya, yakni “menguasai banyak bahasa akan menguasai dunia”. Dan mencapai itu maka harus menbunuh ragu dan harus berlayar jauh dari Maluku.

Boy memilih yang terakhir, dan tibalah saatnya Datuk dan Boy naik sekoci menuju kapal besar milik pedagang Demak. Namun sebelum melepas bibir pantai penyu, Amira yang menghantarkan Kaka Sepupunya itu menangis tersedu-sedu, bahkan menarik benang penutup badan Boy.

Demikian sekelumit kisah sepasang perempuan yang dalam judul diberikan predikat oleh penulis sebagai “ratu adil”, disini perlu diambil ibrah dari kisah tentang keutamaan sifat dan tindak perempuan.

Baik kisah Afirah maupun Amira disebut penulis terdapat girah. Girah Afirah menempatkan perempuan tidak melulu mengedepankan kemapanan ekonomi dalam meniti jalan kasih, sebaliknya cinta berasas takwa atau pendek kata cinta karena Allah menjadi pilihan Afirah untuk bersama Zahid.

Sedangkan girah Amira lebih pada mengharmoniskan pertalian keluarga dengan menyayangi dan mengasihi kaka sepupu sepenuh hati, meski Ibunya yang setengah hati dalam merawat Boy.

Akhirnya sifat dan tindak yang menjadi keutamaan Afirah dan Amirah cukup memberi arti adil, bahwa jujur, tulus dan lurus terhadap keadaan batin jauh lebih baik dari segala fenomena lain.

Ibrah dari girah kedua kisah pun bisa disematkan pada hubungan vertikal manusia dengan Tuhan dan secara horizontal manusia sesama manusia. Seperti kata-kata Nurcholish Madjid “Jika Tuhan sendiri memuliakan manusia, maka apalagi manusia sendiri harus memuliakan sesamanya,”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *