Ketika HMI di Rahim Marjinal

Oleh : Muhammad Rifdi Umasangadji*

Di selokan tergenang air, tetapi tidak untuk digunakan, tumpukan sampah ikut mewarnai saluran, toh arusnya hampir ditelan oleh orang-orang yang dulu ada dipinggiran alias marjinal.

Sempat terpikirkan tumbuh kembang suatu wadah khususnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berkat marjinalisasi masa yang benar-benar luapkan kekesalan ketika derajatnya diinjak.

Seperti Azyumardi Azra menderu kata-katanya, HMI meletus saat atmosfir politik diwarnai oleh semangat revolusioner umat Islam dan bangsa yang habis tersisa lantaran mempertahankan proklamasi kemerdekaan dan mengusir kolonial yang menjajah rakyat Indonesia kembali.

Gagasan api Azyumardi benar adanya, ini diperkuat oleh karena medio 1947 hingga memasuki fase perjuangan yang di dalam sejarah HMI terkonfirmasi jika HMI ada untuk dua grand komitmen, yakni ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an.

Lantas dua komitmen itu terpasang gamblang di tujuan awal, yaitu HMI bertujuan, 1. Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia, 2. Menegakkan dan Mengembangkan Ajaran Agama Islam.

Tak tanggung-tanggung dalam lipatan sejarah, HMI mempertaruhkan keberadaannya untuk tetap ada, betapa tidak keberanian mengusik penjajah serta memproteksi internal bangsa, HMI nyaris punah di makan zaman.

Tapi atas dasar komitmen HMI mampu bertahan bersama-sama misinya sampai sekarang memproduksi kader berjumlah ribuan di laboratorium perkaderan.

Usia HMI kini sudah menanjak ke 76, umur matang sebuah Organisas Kemahasiswaan dan Pemuda (OKP), betapa tidak, OKP yang satu ini telah melewati setengah abad dengan serapan pengalaman yang patut disebut tak berbilang banyaknya.

Sidratahta Mukhtar menulis HMI dan Kekuasaan menyentil persoalan ini, kemudian bukan menyebut HMI alami degradasi karena dekat kekuasaan, itu jawabannya jelas bukan sama sekali. Justeru dengan begitu akan diketahui ternyata inilah HMI.

Bahkan diulas-nya pada sekapur sirih, bahwa pernah Nurcholish Madjid mengutarakan pikiran tentang HMI yang tidak-tidak gegara pemilihan ditingkat organisatoris terkooptasi money politics, di mana kritik ini terpublish di Harian Media Indonesia pada pertengahan Juni, 2000.

Namun tulisan Cak Nur itu ditanggapi oleh Sidratahta dengan menegaskan bahwa HMI kini telah menjadi beban bangsa karena faktor kritisisme dan gerakan intelektual yang semakin melemah.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa tak salah juga pedasnya sajian tulisan kedua tokoh yang sudah berjasa di HMI ini, sebab ada iktikad baik demi reorientasi dengan mereposisi diri dalam kesejatian memeluk makna.

Nampak dari kritikan itu, Sidratahta melanjutkan jika HMI terdegradasi bukan kekuatan kekuasaan yang membesar baik ditingkat organisatoris maupun konfigurasi politik diluar sana, namun kehilangan elan vital sesungguhnya di HMI.

Elan vital itu berupa komitmen ke-Islam-an, etos intelektual dan keberpihakan kepada rakyat akibat tidak ada lagi ruang kondusif bagi upaya membangun wacana yang relevan dengan agenda reformasi bangsa saat ini.

Persoalan ini berkaitan erat dengan moral force atau kekuatan moral yang memiliki prinsip pressure group sebagai check and balance terhadap satu rezim kekuasaan. Yang secara historis HMI pernah alamai trauma di masing-masing rezim.

Diantaranya, pertama sikap kritis HMI kepada rezim orde lama menyebabkan PKI menuntut pembubaran HMI, kedua perpecahan internal HMI akibat pemaksaan asas tunggal HMI oleh rezim orde baru yang otoriter, tak tertutup kemungkinan perubahan nama Nilai Dasar Perjuangan (NDP) menjadi Nilai Identitas Kader (NIK).

Dua zaman ini memberi image baik tentang HMI, dikarenakan berhasil menarik perhatian takjub dan gemetar rezim dengan sejumlah tawaran, dijinakkan dan menyerang. Sementara ditubuh HMI sampai dilirik sebegitu dahsyat lantaran pergolakan pemikiran sebagai orang pinggiran.

Dengan begitu, rupanya mengembalikan elan vital HMI cukup sederhana menjadi orang pinggiran atau marjinal kembali seperti awal sejarah, di mana hadir karena atmosfir politik yang revolusioner kemudian merawat kritisisme zaman dengan etos intelektual serta semangat tanggung jawab sosial.

*Penulis adalah mantan Ketua HMI Komisaris Ushuluddin IAIN Ternate .

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *