Kesal Utang tak Kunjung Dibayar, 3 Pejabat Pemprov Maluku Utara Dilaporkan ke Polisi

TERNATE, MALUTTODAY.com – Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) melaporkan tiga orang pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku Utara, ke Polres Ternate, karena diduga melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan.

Ketiga pejabat ini masing-masing dengan inisial DB mantan Kepala Biro Administrasi Pembangunan (Karo Adbang), IAH, Plt Karo Adbang dan ST Bendahara Adbang.

Kasus tersebut berawal dari DB dan ST melakukan peminjaman uang senilai Rp 416 juta yang terhitung plus bunga sesuai dengan perjanjian awal kepada korban pada (5/1/2021) lalu.

Menurut pengakuan keduanya, pinjaman tersebut untuk kepentingan dinas, karena diperuntukan untuk pembuatan kanopi pada beberapa rumah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dijadikan sebagai rumah para kafilah untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat nasional yang dilaksanakan Sofifi.

Karena keduanya beralasan belum ada anggaran maka diizinkan untuk melakukan peminjaman dan akan dikembalikan jika anggaran sudah dicairkan.

Seiring waktu berganti, DB dicobat dari jabatanya dan digantikan IAH sebagai Plt dan ia mengakui akan menggantikan uang tersebut. Hanya saja uang tersebut hanya dicicil, dan sampai saat ini tidak diselesaikan.

Ketika laporan tersebut masuk ke SPKT Polres Ternate, menggenai penggelapan uang sebanyak Rp 160 juta, penyidik mencoba mempertemukan kedua belah pihak untuk dimediasi dan mengembalikan uang sisa. Kedua belah pihak sepakat. Hanya saja kesepakatan itu dilanggar kembali.

Korban, Muhdi Garwan kepada awak media mengaku kesabarannya saat ini sudah habis dan ingin memproses ketiganya sesuai hukum yang berlaku.

“Saya sudah bilang, biar uang itu hangus tidak apa-apa, yang penting proses hukum harus tetap berjalan, kalau di Polres tidak jalan, maka saya akan laporkan ke Kejaksaan, karena ini ada unsur gratifikasi,” ujarnya kesal, Kamis (22/12).

Muhdi menambahkan, karena setelah ada kesepakatan antara dirinya dan ketiga terlapor di Mapolres, mereka bersedia menggantikan seluruh uangnya yang dipinjamkan.

“Penyidik telepon mereka baru mau memberikan uang Rp 75 juta. Tetapi saya sudah tidak mau, saya mau diproses saja,” pungkasnya.

Terpisah, Kapolres Ternate, AKBP Andik Sigit Purnomo ketika dikonformasi mengatakan dirinya akan mengecek soal kasus tersebut.

“Saya cek dulu ke penyidik, mengenai kebenaranya, jika terbukti ya kita proses,” jelasnya. (Shl)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.