Bedah Pertumbuhan Ekonomi, DPRD Malut Gelar Forum Ekonomi Regional

SOFIFI,MALUTTODAY – Sambut pertumbuhan ekonomi yang baru-baru ini mendapatkan apresiasi Presiden Joko Widodo, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku Utara (Malut) gelar Forum Ekonomi Regional, di Gamalama Ballroom Sahid Bela Hotel, Sabtu (17/12/2022).

Forum diskusi itu melibatkan sejumlah narasumber dalam membedah tema dikursif tentang “Transformasi pertumbuhan ekonomi terhadap daya saing usaha kecil dan menengah,” di mana kegiatan berjalan antusias dan dibanjiri tukar gagasan oleh para peserta.

Sambutan Pimpinan DPRD Provinsi Malut Kuntu Daud menuturkan, bahwa beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo dalam sebuah kesempatan memeberikan apresiasi yang setinggi-tingginya bagi Provinsi Malut.

“Apresiasi itu, karena Maluku Utara merupakan daerah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia, bahkan di dunia,” ujar Kuntu Daud saat memberikan sambutan.

Menurutnya, tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi sayangnya tidak dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Malut, padahal Malut juga sebagai provinsi dengan indeks kebahagiaan tertinggi di Indonesia yang hal ini sesuai rilis Badan Pusat Statistik (BPS).

“Mestinya kebahagiaan itu berkolerasi dengan tingkat kesejahteraan ekonomi,” tandasnya.

Kuntu menjelaskan, jika Provinsi Malut atau Jazirah Moloku Kie Raha memiliki sejarah yang gemilang menyangkut perekonomian dunia, dikarenakan dalam jejak masa lampau, jazirah ini merupakan jalur rempah yang ikut berperan menggerakkan pusat kekuatan ekonomi dunia.

“Malut pun pernah menyumbang ribuan ton kopra untuk pembebasan Irian Barat, tapi apa kabar petani cengkeh, pala dan juga kopra di hari ini,” bebernya.

Kuntu bilang, salah satu faktor kesejahteraan ekonomi yang belum merata di Malut, dikarenakan masih minimnya peran pemerintah sebagai fasilitator dalam mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM), para pelaku UKM tidak menjadi aktor ekonomi utama sehingga tidak mencipatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Belum lagi lanjutnya, pembangunan ekonomi masih bersifat parsial, masing-masing daerah di kabupaten/kota belum memperlihatkan sinergitas dan konektifitas, salah satu penyebabnya adalah kurangnya komunikasi dan koordinasi antara pemerintah dalam pengembangan UMKM.

“Bercermin dari sini, komisi II DPRD Provinsi Maluku Utara berinisiatif memfasilitasi kegiatan yang bertajuk forum diskusi pembangunan ekonomi regional,” jelasnya.

Oleh karena itu kata dia, forum diskusi yang digelar hari ini adalah sebuah ikhtiar dari beberapa persoalan diatas, serta menjadi forum curah gagasan dalam menghadapi problem pembangunan ekonomi regional. Pihaknya berharap forum diskusi semacam ini dapat dihelat secara berkesinambungan, dikarenakan ini merupakan upaya untuk mengefktifkan jaringan komunikasi, koordinasi dan koneksi antar semua unsur pemerintah serta masyarakat.

“Kami menaruh harapan besar, forum diskusi ekonomi pembangunan regional ini mempunyai hasil positif dan dapat ditindak lanjuti,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Provinsi Malut dalam sambutan mengatakan pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Malut mengapresiasi langkah DPRD lewat komisi II yang sudah berinisiatif membuat forum ini.

“Patut untuk kita berikan apresiasi kepada pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Maluku Utara yang terus menggagas kegiatan forum diskusi bertajuk penguatan ekonomi regional,” katanya.

Menurut Wagub, forum ini adalah forum yang sering dilakukan oleh DPRD Provinsi Malut untuk melahirkan ide, gagasan dan pikiran dalam memperkuat strategi pengembangan ekonomi regional di Maluku Utara.

“Patut untuk menjadi perhatian kita semua bahwa saat ini provisi Maluku Utara menjadi pusat perhatian nasional bahkan tingkat dunia. Provinsi Maluku Utara menjadi provinsi dengan tingkat Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi di Indonesia mencapai 27.74 persen,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Wagub, tingkat inflasi di Malut menjadi paling terendah di seluruh Indonesia, yakni 2.9 persen. Dua hal tersebut harus menjadi materi diskusi yang penting dalam forum ini. Dalam forum diskusi ekonomi regional ini, ada tiga hal yang menjadi focus pembahasan yakni ketenagakerjaan, Koperasi dan UMKM dan Perdagangan.

Wagub menjelaskan, persoalan ketenagakerjaan di Maluku Utara menjadi penting untuk dibicarakan pada hari ini setelah meningkatnya jumlah perusahaan besar yang beroperasi di Maluku Utara maka jumlah tenaga kerja juga ikut bertambah seperti perusahaan tambang yang merupakan tempat paling banyak merekrut tenaga kerja baik lokal, nasional bahkan tenaga kerja asing.

Selain itu dikatakan Wagub, meningkatknya jumlah tenaga kerja memberi dampak perubahan ekonomi tersendiri bagi para tenaga kerja. Perubahan status sosial masyarakat Maluku Utara yang sebelumnya berprofesi lain kemudian ramai-ramai mengajukan permohonan menjadi tenaga kerja di perusahan dengan pendapatan diatas rata-rata.

“Sebagai Wakil rakyat dan sebagai perpanjangan tangan suara rakyat maka saudara-saudara harus mampu memperhatikan setiap dinamika yang terjadi dengan memperhatikan kebutuhan mereka,” harap wagub.

Begitu juga kata Wagub, persoalan Koperasi dan UMKM serta perdagangan di Malut di mana upaya yang dilakukan telah dilakukan Pemprov Malut melalui Dinas Koperasi dan UMKM untuk mendorong penguatan sektor UMKM Diantaranya Wagub menyebutkan, yakni telah memberikan bantuan sembako, bantuan perkuatan modal, bantuan peralatan produksi, peningkatan literasi pemasaran online melalui pelatihan-pelatihan dan memfasilitasi Pembuatan Market Place BabeliMalut.

“Saya berharap, dengan adanya Forum Ekonomi Regional hari ini, Pemerintah daerah maupun DPRD sebagai mandataris rakyat dapat melakukan kajian yang lebih objektif terhadap upaya peningkatan nilai-nilai ekonomi di Maluku Utara,” pungkas Wagub.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *