Tradisi Ela-Ela: Menyambut Lailatul Qadar di Jazirah Al-Mulk (Jejak Peradaban yang Sarat Toleransi)

Qadhi-Joqalem Kesultanan Ternate, H. Hidayatussalam Sehan. (foto: dok pribadi)

RAMADHAN selalu indah dan syahdu di Ternate dan sekitarnya, termasuk Tidore, Makian, Moti dan seluruh Halmahera, bahkan sampai ke kepulauan Sula dan Taliabu.

Ramadhan tak terasa akan berlalu. Begitu cepat perputaran waktu, sehingga beberapa saat lagi akan berpisah dengan bulan termulia ini. Siapapun yang mendapatkan ramadhan, sungguh telah mendapatkan karunia besar dari Allah SWT. Siapapun yang mendapatkan lailatul qadar sungguh dia mendapat kemuliaan terhebat dalam kehidupan.

Ternate Jazirah Al-Mulk, kerajaan Islam berabad-abad dengan peradaban Islam yang terkenal menempatkan ramadhan sebagai saat teristimewa dalam kehidupan rakyat umum, maupun dalam lingkup kesultanan. Dalam pandangan sufistik, Jazirah Al-Mulk atau Moloku Kie Raha, ramadhan sebagai tamu istimewa yang datang dengan segala kebesaran serta membawa hadiah karunia dari Allah SWT. Olehnya itu, segala persiapan zahir bathin dilakukan menjelang datangnya ramadhan. Selama ramadhan dan jelang akhir Ramadhan.

Sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa dalam lingkaran waktu ramadhan terdapat satu dimensi waktu yang disebut lailatul qadr atau ela-ela dalam istilah orang tua-tua di Ternate dan seantero Jazirah Al-Mulk. Sesuai firman Allah SWT dan hadits Nabi SAW, bahwa malam ini lebih baik dari seribu bulan, artinya bukan sekedar seribu bulan tapi lebih (Al-Quran surah Al-Qadr:3).

Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya mengisyaratkan keberadaan malam Qadr ini pada 10 malam terakhir.

Selama berabad-abad, leluhur negeri ini menetapkan secara zahir malam tersebut jatuh pada malam ke 27 ramadhan. Dimana pada malam tersebut ditandai dengan dinyalakannya palita, poci, obor dan loga-loga secara massal di setiap masjid, pangaji, kampung, rumah-rumah penduduk sampai di pekuburan muslim. Pembakaran lampu-lampu tersebut selalu diiringi bacaan surah Al-Qadr.

Makna dalam tersirat dari tradisi ela-ela tersebut berupa seruan kepada seluruh manusia, agar menghidupkan malam dengan qiyamuilail (shalat malam), tadarus Al-Quran serta zikrullah. Selain itu, di malam tersebut Sultan Ternate beserta seluruh Bobato Dunia dan Bobato Akhirat melakukan ritual “Kolano Uci Sabea”, dimana Sultan mengenakan pakaian kebesaran diiringi seluruh perlengkapan dan pasukan pengawal diarak dari kadaton ke masjid Sultan melakukan shalat tarawih dan witir bersama seluruh rakyat.

Iringan musik cikamomo yang mengiringi Sultan merupakan peninggalan Wali Sembilan, ketika Sultan Ternate Sharif Zainai Abidin (1486-1500) mendalami ilmu Islam kepada Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sharif Muhammad Ainul Yaqin alias Sunan Giri.

Kepulangan beliau ke Ternate, selain membawa beberapa ulama dari Jawa untuk membantu syiar Islam, yang hingga kini mewariskan imam Jawa dan Khatib Jawa di Bobato Akhirat dan Fanyira Jawa di  Bobato Dunia, beliau juga diantar dengan irama cikamomo dan alatnya gong  tatabuan, ditinggalkan di istana Ternate, hingga kini. Irama ini masih dijaga ritme keasliannya sejak berabad-abad lalu.

Selain itu, dalam upacara tersebut Sultan ditandu oleh pasukan Kimalaha Doi, beliau mengenakan pakaian jubah hijau serta imamah Khalifah yang merupakan hadiah dari Kerajaan Hijaz pada tahun 1900. Menurut keterangan catatan serta lisan, imamah tersebut disemayamkan terlebih dahulu di dalam Raudhah Nabi Muhammad SAW, sebelum dibawa ke Ternate.

Hakikat dari Kolano Uci Sabea adalah pemuliaan rakyat kepada Rasulullah Muhammad SAW yang disimbolkan pada Sultan Ternate sebagi Tubadilurrasul, penerus perjuangan rasul dalam arti syiar Islam, melindungi, mengayomi umat manusia dari manapun asalnya, apapun agamanya.

Tradisi ini tidak saja diikuti oleh bala kusu yang muslim, tapi juga dikawal oleh bala kano yang non muslim dari klan Tabanga dan beberapa suku dari pedalaman Halmahera.

Hal ini menandakan kesetiaan mereka kepada Kesultanan juga toleransi dan ikatan kuat rakyat dari berbagai lapisan di bawah Kesultanan Ternate.

Sejak diaktifkannya kembali jabatan Mufti Kesultanan Ternate yang terdiri atas seorang Mufti Besar dan dua Mufti Muda. Setelah shalat di Sigi Lamo yang dipimpin oleh Qadhi, seluruh rakyat akan mendengarkan tausiyah dan ta’lim yang disampaikan oieh Mufti Besar Al-Habib Abuya Abubakar bin Hasan Alattas.

Sebelumnya, terdahulu tradisi ini juga dilaksanakan oleh Mufti Besar Habib Muhammad bin Abdurrahman Albaar pada masa Sultan Muhammad Usman (1902-1915) dan Sharif Jamalullail pada masa Sultan Muhammad Zain (1823-1859) dan juga para Mufti Besar sebelumnya.

Maksud dari segala tradisi Ela-ela merupakan rasa syukur dan ta’dzim seraya bemunajat kepada Allah SWT, semoga berkah ramadhan dan segala kebesarannya meliputi seluruh negeri di bawah daulat Jazirah Al-Mulk dan kita semua dipertemukan dengan ramadhan yang akan datang.

Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis: H. Hidayatussalam Sehan (Qadhi-Joqalem Kesultanan Ternate)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.