Jelang Malam Lailatul Qadar, Lampu Ela-Ela Mulai Dijual di Kota Ternate

TERNATE, MALUTTODAY.com – Jelang malam lailatul qadar lebih dikenal dengan malam Ela-ela atau menyalakan obor menjadi tradisi masyarakat di Kota Ternate, umumnya di Provinsi Maluku Utara. Warga memanfaatkan dengan menjual berbagai aksesoris yang berkaitan dengan lailatul qadar, seperti lampu ela-ela.

Lampu ela-ela bisa berbentuk obor, lampu pelita ataupun lampu tempel. Bahannya bisa terbuat dari bambu, botol atau kaleng bekas yang diberi sumbu.

Amatan disejumlah tempat, lampu Ela-ela dijual, mulai ruas jalan Merdeka, Kelurahan Gamalama, Jalan Yos Sudarso dan di Kelurahan Kalumpang, tepatnya di depan Bank BI.

Para pedagang musiman ini selalu nampak menawarkan lampu Ela-ela pada pengendara yang melewati jalan tersebut.

Ani salah satu warga penjual lampu Ela-ela kepada wartawan mengatakan dagangan yang dijual, dibuat sebelum bulan suci Ramadhan karena cukup rumit dibuat dari bambu yang memakan waktu.

“Sebulan sebelum puasa kami sudah mulai sediakan bambunya, baru ditambah beli penutupnya, seng, jadi prosesnya lama juga, lalu dirancang juga bentuk bambunya,” kata Ani, Minggu (24/04).

Ani bilang, untuk lampu Ela-ela yang dibuat dari bambu harganya mulai Rp 100-Rp 150 ribu. “Harganya mulai Rp 100 ribu karena proses pembuatan cukup rumit,” akunya.

Sementara lampu Ela-ela yang terbuat dari botol bekas dan diikat dengan kawat harganya relatif murah, yakni cuma Rp 10 ribu.

“Jadi harga dipatok sesuai variasi lampunya, ukuran, hingga keunikan saat dinyalakan,” pungkasnya.

Terpisah, Suardi (32), salah penjual mengaku lampu Ela-ela yang dirancang menggunakan bambu setinggi kurang lebih satu meter itu dijual dengan harga yang bervariasi.

“Kalau yang satu sumbuh harganya Rp100 ribu, kalau dua sumbuh harganya Rp 150 ribu,” ujar Suardi.

Suardi menambahkan, harga yang dipatok cukup bervariasi, hal ini tergantung jenis dan ukurannya. Meski demikian lampu Ela-ela yang dijajakan ini proses pembuatannya dari bambu langka, yakni bambu batik yang sekarang bambu seperti ini sulit ditemukan.

“Kami buat dari bambu langka, bambu batik, makanya harganya disesuaikan,” akunya.

Suardi bilang, tahun lalu menjual aksesoris lampu ela-ela pendapatannya lumayan, semuanya laku terjual mudah-mudahan tahun ini habis terjual.

“Semoga semua bisa habis terjual, apalagi dalam waktu dekat ada festival ela-ela lagi,” pungkasnya. (Shl)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.