Asap Putih Gunung Dukono 50-200 Meter, Pengamat: Aktivitasnya Normal, Tidak Ada Letusan

Gunung Api Dukono di Halmahera Utara. (Sumber foto: Pos pengamatan gunung api Dukono)

HALUT, MALUTTODAY.com – Gunung api Dukono mengeluarkan asap putih kelabu tebal, setinggi 50-200 meter dari puncak kawah gunung pada tekanan asap lemah.

Asap condong ke timur, akibatnya, abu vulkanik jatuh ke arah timur Kota Tobelo. Meski demikian, hingga saat ini tidak ada aktifitas vulkanik dan gunung masih berstatus level II waspada.

“Informasi nya begitu, dalam minggu ini kan terjadi hujan deras dari kemarin. Jadi arah angin juga mengarah ke timur, jadi jatuhnya abu vulkanik gunung api mungkin mengarah ke Kota Tobelo disana. Aktifitas nya normal, gunung bersatus level II waspada dan aktifitas nya normal-normal, tidak terjadi aktifitas letusan gunung,” ujar Pengamat Gunungapi Dukono, Sarjan Roboke kepada Maluttoday, Selasa (5/4/2022) melalui sambungan telepon.

Sarjan juga mengatakan, adanya abu vulakanin disebabkan terjadinya hujan di puncak kawah gunung api adanya endapan produk letusan, namun untuk aktiftas gunung masih normal.

Dari catatan periode pengamatan 05-04-2022 00:00-24:00 Wit, meteorologi cuaca cerah, berawan dan hujan. angin bertiup sedang ke arah timur, suhu udara 26-30 °c dan kelembaban udara 82-83 persen. Visual gunung jelas hingga kabut 0-II. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 50-200 meter di atas puncak kawah. Aktifitas kawah, gunung jelas – 0 II kabut, asap putih kelabu tebal, tinggi lk. 50 – 200 meter, tekanan asap lemah, condong ketimur, atau tepat di Kota Tobelo.

“Tapi itu akibat karena hujan, bukan aktifitas gunung api, akibat curah hujan yang deras itu memicu aktifitas, jadi itu sebenarnya bukan aktifitas letusan. Tapi mungkin adanya produk letusan yang mengendap disana terbawa angin,” kata Sarjan lagi.

Sementara terekam dialat seismograf kegempaan, 1 kali gempa tektonik lokal amplitudo 14 mm, S-P : 7.66 detik, durasi : 35.82 detik, terasa jumlah : 1, amplitudo : 34 mm, S-P : 0 detik, durasi : 200.81 detik, Skala : III MMI.

Sedangkan gempa tektonik jauh 3 kali, amplitudo : 7-34 mm, S-P : 15.9-16.71 detik, durasi : 61.55-63.98 detik, tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0.5-2 mm (dominan 1 mm).

“Untuk terdeteksi di alat seismograf terekam masih terjadi tremor menerus, itu artinya bawah masih terjadi gerakan gerakan magma-magma di dalam gunung api, tapi untuk gempa letusan sampai saat ini tidak terjadi, karena dari kegempaan itu rata-rata terjadi karena gempa tektonik, berarti tidak kaitannya dengan aktifitas gunung, tapi kaitan dengan supermasi batuan dalam kerak bumi,” Tutup Sarjan.

Meski demikian Sarjan menghimbau masyarakat di sekitar gunung Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 kilometer. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap. Maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar gunung Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan. (Dickhy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *