4 Orang Pemuda dan 2 Anggota Polisi Terlibat Perkelahian

ilustrasi

TERNATE, MALUTTODAY.com – Dua orang oknum anggota polisi dan empat pemuda diduga terlibat perkelahian di depan sebuah tempat hiburan malam. Perkelahian dan aksi saling kejar hingga sampai ke pasar Gamalama, pada minggu malam kemarin.

Akibatnya perkelahian ini 4 orang pemuda mengalami bengkak di wajah. Sedangkan anggota polisi ada dua orang yang menjadi korban.

Salah seorang pemuda yang terlibat perkelahian, berinisial RH, saat ini telah membuat laporan polisi (LP) di Polda Maluku Utara. RH mengaku menjadi korban pengeroyokan oknum polisi.

Pengakuan RH, ia setelah dikeroyok oknum polisi di pasar, langsung dibawa ke kantor Polisi. Setibanya di kantor, ia disuruh untuk membersihkan wajahnya yang penuh darah.

“Setelah tiba di kantor polisi, anggota suruh saya cuci muka untuk bersihkan darah di wajah. Sampai masuk di kantor, dong pukul saya lagi di dalam kantor. Dong pukul saya dari dalam kantor sampai diluar kantor,” ungkapnya.

Terpisah, Kabid Humas Polda Maluku Utara, Kombes Pol Adip Rojikan ketika dikonfirmasi awak media membenarkan adanya dugaan perkelahian dan adanya korban di kedua belah pihak.

“Dari masyarakat juga ada korban dan kepolisian juga ada korban, kedua belah pihak langsung membuat LP,” jelasnya.

Adip menambahkan, saat ini Ditpropam dan Ditreskrimum Polda Maluku Utara sedang menindaklanjut kedua laporan tersebut.

“Dalam kejadian tersebut, kami berkomitmen siapapun yang terlibat atau yang melakukan pelanggaran, atas pelaku yang mengakibatkan kerugian bagi korban itu, yang bersangkutan akan kita proses sebagaimana hukum yang berlaku,” katanya.

Mantan Kapolres Bantaeng ini bilang, untuk korban dari pihak kepolisian terdapat dua korban, satu anggota Itwasda dan anggota Spripim.

“Kedua korban mengalami luka robek di pelipis sama di wajahnya,” ucapnya.

Disentil dengan adanya satu pemuda yang diduga terlibat dalam perkelahian dan dibawa ke kantor Polisi lalu dikeroyok, Adip bilang, tentunya pihaknya tidak mentolelir setiap orang yang melakukan pelanggaran.

“Dalam proses penegakan hukum, tidak ada toleransi kepada orang yang membuat kesalahan itu, baik masyarakat maupun anggota,” pungkasnya. (Shl)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.